Laman

Rabu, 18 Juli 2012

BLITAR PART I : Candi Penataran, Makam Bung Karno, Kebun Binatang, Aloon-aloon


Rabu, 5 Juli 2012
Di hari tersebut aku, ayah, Galang, Akhris, Unyil, dan ayahnya Akhris jalan-jalan ke Blitar. Tujuan pertama kita yaitu ke Candi Penataran. disana kita keliling-keliling untuk ngeliat suatu peninggalan kerajaan Kediri.
Berikut sedikit cerita bersejarah tentang Candi Penataran

Nama asli candi Penataran dipercaya adalah Candi Palah yang disebut dalam prasasti Palah, dibangun pada tahun 1194 oleh Raja Çrnga (Syrenggra) yang bergelar Sri Maharaja Sri Sarweqwara Triwikramawataranindita Çrengalancana Digwijayottungadewa yang memerintah kerajaan Kediri antara tahun 1190 Р1200, sebagai candi gunung untuk tempat upacara pemujaan agar dapat menangkal atau menghindar dari mara bahaya yang disebabkan oleh Gunung Kelud yang sering meletus. Kitab Negarakretagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca menceritakan perjalanan Raja Hayam Wuruk, yang memerintah kerajaan Majapahit antara tahun 1350 Р1389, ke Candi Palah untuk melakukan pemujaan kepada Hyang Acalapat, perwujudan Siwa sebagai Girindra (Giri Indra, raja penguasa gunung).
Kesamaan nama Girindra yang disebut pada kitab Negarakretagama dengan nama Ken Arokwangsa Rajasa dan wangsa Wardhana. Sedangkan Hyang Acalapati adalah salah satu perwujudan dari Dewa Siwa, serupa dengan peneladanan sifat-sifat Bathara Siwa yang konon dijalankan Ken Arok. yang bergelar Girindra atau Girinatha menimbulkan dugaan bahwa Candi Penataran adalah tempat pedharmaan (perabuan) Ken Arok, Girindra juga adalah nama salah satu wangsa yang diturunkan oleh Ken Arok selain
Perhatian terhadap prasasti Palah kembali pada tahun 1286, pada masa pemerintahan Kertanegara. Beliau mendirikan Candi Naga dengan hiasan relief naga yang disangga oleh 9 orang sebagai lambang candrasengkala ”Naga muluk sinangga jalma” atau tahun 1208 Saka.
Pada masa pemerintahan Jayanegara candi Penataran mulai mendapat perhatian kembali, kemudian dilanjutkan pada masa Tribuanatunggadewi dan Hayam Wuruk. Pemujaan terhadap Dewa Palah semakin kental diwarnai pemujaan kepada Dewa Gunung atau Syiwa. Candi Penataran diresmikan sebagai candi negara dengan status dharma lepas. Sesuai angka tahun yang dipahatkan didinding kolam yaitu tahun 1337 Saka atau tahun 1415 M merupakan angka tahun termuda di antara angka-angka tahun yang terdapat di kompleks candi Penataran tersebut. Waktu itu Majapahit didalam masa pemerintahan Wikramawardhana.
Semenjak runtuhnya kerajaan Majapahit yang kemudian disusul dengan masuknya agama Islam di Jawa, banyak bangunan suci yang berkaitan dengan agama Hindu dan Budha begitu saja ditinggalkan oleh masyarakat penganutnya. Lama kelamaan bangunan-bangunan suci yang tidak lagi dipergunakan itu dilupakan orang karena masyarakat sebagian besar telah berganti kepercayaan. Akibatnya bangunan tersebut menjadi terlantar tidak ada lagi yang mengurusnya, pada akhirnya tertimbun longsoran tanah dan semak semak belukar.
Candi Penataran ditemukan kembali pada tahun 1815, tetapi sampai tahun 1850 belum banyak dikenal. Penemunya adalah Sir Thomas Stamford Raffles (1781-1826), Gubernur Jenderal pemerintah kolonial Inggris yang pernah berkuasa di Nusantara. Seiring berjalannya waktu, kompleks candi Penataran yang dahulunya sempat terabaikan sekarang mulai mendapatkan perhatian dari pemerintah dan kemudian dipugar. Kini candi ini menjadi tujuan wisata yang menarik.

Dan yang di bawah ini adalah sebagian foto yang diambil di Candi Penataran.
















Setelah selesai keliling-keliling Candi, kita melanjutkan perjalanan ke Makam Bung Karno. disana kita sempat bertemu dengan salah satu putera Bung Karno beserta keluarga yang sedang mengunjungi makam Bung Karno. 



Setelah mengunjungi makam Bung Karno kita mampir sebentar ke Kebun Binatang yang letaknya tdk begitu jauh dari Makam Bung Karno. Disana terdapat beberapa binatang yang sempat aku abadikan dalam foto. ada sedikit cerita lucu ketika aku, Galang, Akhris dan Unyil mendekati kandang Kera. tanpa kita melakukan hal yang mengganggu,tiba-tiba kera tersebut loncat dan membuat kadang terguncang dengan keras. kita yang berada di depan kandang tersebut spontan lari menjauhi kandang dan berterik ketakutan. hahaha seteleh kita mengamankan diri dari kandang kera tersebut, kita pun tertawa terbahak-bahak menertawakan diri masing-masing.








Adzan Dzuhur pun berkumandang, kami pun memutuskan untuk menunaikan ibadah shalat terlebih dahulu di Majid Agung yang letaknya tepat di depan Aloon-aloon Malang. lagi-lagi kita mengalami hal yang membuat tawa. aku, akhris, dan unyil sholat di ruang khusus untuk wanita. ketika akan sholat unyil mengenakan mukena yang ukurannya jauh kebih besar dibanding badannya. mukena yang seharusnya hanya memperlihakan wajahnya ini tertarik sampai ke atas bagian depan kepalanya. spontan aku dan akhris tertawa terbahak-bahak melihat unyil dengan mukena kebesarannya itu. 

dan di bawah ini adalah beberapa foto yang berhasil diabadikan di Aloon-aloon Malang.







Karena perut sudah keroncongan dan badan juga sudah lelah keliling-keliling kota Blitar, akhirnya kita makan siang di Bakso Rejeki yang ada di Aloon-aloon Blitar. Harga semangkok cuma 5 ribu rupiah "kalo gak salah" dengan 7 atau 8 pentol bakso dan 2 buah gorengan. nambah sampe 2 mangkok bakso karena kelaparan dan memang bakso nya juga enak. 
karena perut sudah kenyang kita pun melanutkan perjalanan, di tengah perjalanan Galang sebagai pelopor minta dibelikan topi yang di jual di pinggir jalan. akhirnya kita pun berhenti dan menemaninya untuk memilih sebuah topi. setelah memilih-milih akhirnya ia oun mendapatkan sebuah topi berwarna merah. tak mau kalah, aku juga membeli sebuah topi coboy, sedangkan akhris dan unyil masing-masing membeli sebuah kupluk yang mirip dengan punya Mbah Surip.  


setelah semua lelah, akhirnya kita memutuskan untuk pulang. dengan hati yang senang, perut kenyang dan sebuah topi di tangan masing-masing kita pun melakukan perjalan pulang yang hanya membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit.
sekian deh jalan-jalan di kota Blitar nya, bye

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar